Tugas Alat-Mesin : Proses Pengolahan Crude Palm Oil (CPO)

Published 15/08/2012 by syerelmediapembelajaran

Proses Pengolahan CPO (Crude Palm Oil) menjadi Minyak Goreng

Minyak goreng sawit adalah minyak fraksi cair berwarna kuning kemerahan yang diperoleh dengan cara fraksinasi minyak kelapa sawit kasar (Crude Palm Oil) yang telah mengalami proses pemurnian. CPO adalah minyak berwarna jingga kemerah-merahan yang diperoleh dari pengempaan mesokarp kelapa sawit. Secara keseluruhan proses penyulingan minyak kelapa sawit tersebut dapat menghasilkan 73% olein, 21% stearin, 5% PFAD (Palm Fatty Acid Distillate) dan 0.5% buangan.

Berikut Diagram Alir Pengolahan Minyak Goreng :

Proses pengolahan minyak goreng tersebut adalah :

1)      Pemurnian

Proses pemurnian minyak sawit ini dibagi menjadi 4 tahap, yaitu:

(a)    Degumming

Degumming adalah proses pemisahan getah yang terdiri dari fosfatida, protein, karbohidrat dan resin tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam CPO. Proses ini dilakukan dengan menambah air, uap air atau asam fosfat. Setelah bahan pengotor terpisah dari minyak maka dilakukan sentrifusi. Suhu yang digunakan adalah 32ᴼC – 50ᴼC agar kekentalan minyak berkurang dan gum mudah terpisahkan.

(b)   Netralisasi

Proses netralisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan soda api, alkali karbonat, kapur dan bahan kimia lainnya. Yang banyak digunakan adalah soda api karena pertimbangan biaya dan efisiensi, soda api dapat menetralkan asam lemak bebas, menghilangkan sebagian zat warna dan lendir yang tidak hilang saat degumming.

Untuk engurangi kehilangan minyak saat netralisasi maka perlu diperhatikan konsentrasi alkali, waktu dan suhu netralisasi.

Jika konsentrasinya terlalu tinggi menyebabkan reaksi dengan trigliserida sehingga mengurangi rendemen minyak dan meningkatkan jumlah sabun yang terbentuk.

(c)    Pemucatan

Proses pemucatan atau bleaching dimaksudkan untuk menghilangkan zat warna pada minyak sawit adalah karoten. Proses ini dapat berpengaruh negatif karena dapat merusak antioksidan alami dan komponen sinergisnya seperti tokoferol, karotenoid dan fosfolipida yang dapat menurunkan stabilitas minyak terhadap oksidasi. Pemucatan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

 

(d)   Deodorisasi

Deodorisasi bertujuan untuk menghilangkan bau yang tidak dikehendaki dan menghilangkan asam lemak bebas. Cara yang digunakan adalah metode destilasi. Minyak hasil proses pemucatan dimasukan ke dalam ketel deodorisasi dan dipanaskan pada suhu 200-250˚C pada tekanan 1 atm dan selanjutnya dialiri uap panas selama 4-6 jam. Pemakaian suhu tinggi digunakan untuk menguapkan bau sedangkan pengurangan tekanan bertujuan untuk mencegah hidrolisa oleh uap air.

Tekanan uap zat bau sangat rendah sehingga untuk menghilangkannya diperlukan suhu tinggi. Namun suhu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada minyak sehingga diupayakan menurunkan suhu destilasi dengan pemberian gas inert (uap air kering).

 

2)      Fraksinasi

Fraksinasi adalah proses pemisahan antara fraksi padat yaitu stearin dengan fraksi cair yaitu olein. Setelah proses degumming suhu diturunkan 60˚C menjadi 30˚C selama 3-4 jam sampai terbentuk Kristal. Pada akhir pembentukan Kristal ditambahkan larutan detergen dan magnesium sulfat sehingga permukaan Kristal yang terbentuk dilapisi oleh detergen dan memisahkan dengan olein cair. Fraksi cair dipisahkan dengan sentrifugasi sehingga diperoleh olein serta campuran stearin dan detergen . pemisahan antara stearin dan detergen dilakukan dengan sentrifugasi.

 

Menurut pengamatan, titik kritis pada pengolahan minyak goreng ini terdapat pada pemucatan (bleaching) karena proses ini dapat berpengaruh negative yaitu dapat merusak antioksidan alami dan komponen sinergisnya seperti tokoferol, karotenoid dan fosfolipida sehingga dapat menurunkan stabilitas minyak terhadap oksidasi.  Proses pemucatan yang lebih baik adalah dengan pemanasan karena antioksidan, tokoferol, dan karotenoid stabil terhadap panas.

 

3)      Pengemasan

4)      Pengepakan

 

Limbah Pengolahan Minyak

Industry pengolahan minyak nabati ini selain menghasilkan minyak edible yang merupakan produk utama juga menghasilkan produk samping. Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel yang relative murah yang diambil dari produk samping dan limbah industri minyak kelapa sawit tersebut, bahan yang masih dapat dimanfaatkan antara lain:

  • CPO offgrade, adalah CPO yang berkadar keasaman lebih dari 5%.
  • CPO Parit, merupakan limbah kelapa sawit. Limbah ini berupa campuran air dan minyak yang banyak ditampung di lagoon di perusahaan pengolah kelapa sawit. Limbah ini mengandung 0.5-1% minyak sawit.
  • CPO PFAD, Palm Fatty Acid Distillate atau dikenal juga sebagai DALMS atau distilat asam lemak minyak sawit. PFAD merupakan limbah pengolahan CPO menjadi minyak goreng. CPO diolah menjadi minyak cair (olein) dan padat (stearin). Olein diolah lebih lanjut menjadi m,inyak goreng sedangkan stearin menjadi margarine. PFAD volumenya 6% dari CPO, sedangkan harganya 80% CPO standar.

 

Sumber

http://www.scribd.com/doc/22483147/Teknologi-Biodiesel

http://www.anggareni.net/search/pengolahan-limbah-pabrik-minyak-goreng

http://lordbroken.wordpress.com/2010/11/04/pengolahan-minyak-penghilangan-bau/

http://www.chem-is-try.org/kategori/materi_kimia/kimia-industri/

http://www.docstoc.com/docs/21658228/PABRIK-MINYAK-KELAPA-SAWIT

http://www.docstoc.com/docs/80568955/Pabrik-Kelapa-Sawit

 

KLIK untuk mendownload File ini :)

 

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: